Sunday, 28 June 2026
Sunday, 30 October 2022
Sajak Tanpa Rima
Bagian 1 : Dia
Ini adalah sebuah sajak tanpa rima, tak ada rasa yang sama di ujung setiap kata.
Hampa juga ternyata, tapi, tetap saja Dia tulis dengan bangga, kata-kata yang tak bermakna apa-apa.
Sebenarnya, Dia dengan sadar dan sukarela, masih membuka mata nya untuk sekedar menahan lara.
Mendengarkan nada-nada berirama hingga menonton laga favorit nya.
Mulut berkali-kali menganga tanda tak kuat untuk tetap terjaga.
Semua rasa kantuk yang di dera nya, seakan tak ada apa-apa nya dengan apa yang Dia rasa.
Bagian 2 : Aku
Ini adalah sebuah sajak tanpa rima, harus ku selesaikan segera meski tak indah di pandang mata.
Seperti nya terlalu lama aku menunda, hingga aku tak sadar playlist lagu Thai mampir di beranda.
Tentu aku tak paham apa yang wanita ini nyanyi kan, tapi merdu juga walau tak ada yang bisa ku baca.
Kulanjutkan tulisan ku, yang belum ada setengah alinea, apalagi sebait sastra.
Aku tau kalau Aku tidak kemana-mana, duduk diam seakan tak bernyawa atau menghirup udara.
Dimana tumpangan yang ku tunggu di depan mata, apa sebenarnya tak pernah tercipta?
Bagian 3 : Kita
Ini adalah sebuah sajak tanpa rima, layak nya Kita, yang tak pernah bersuara sama.
Kita sama-sama mati rasa, dan memendam ekspektasi luar biasa.
Sanggup kah Kita berjalan setara sampai di penghujung sumber cahaya?
Atau Kita akan menjadi Kita, saja, tanpa pernah punya kesempatan tertawa bersama?
Hidup masing-masing di istana merdeka ciptaan Kita, yang tak pernah sama.
Lalu, apa yang masih Kita cari, jika berdiri saja tak bisa setegak para remaja?
Bagian 4 : Tidak Ada
Ini adalah sebuat sajak tanpa rima. Tidak Ada. Tidak Apa. Ada Apa.
Yogyakarta, 31 Oktober 2020
~ Koko
Sunday, 26 June 2022
Pak Tani, Tidur.
Meragu lagi, berhenti di persimpangan lagi, menakutkan kembali, seperti setengah mati, yang belum benar-benar mati, nyaris di ujung jari, menanti kaki-kaki beraksi dengan hasil yang masih belum pasti.
Api Pak Tani malah meredup dan mulai kuncup,
Sudah tak semembara ketika pertama kali meletup,
Sebab, sekumpulan Air biadap seketika muncul bersama sebuah era yang seharusnya sudah tertutup.
Menjebol pematang sawah Pak Tani yang telah menyerah tak sanggup.
Alih-alih menutup arus, Pak Tani justru bersembunyi kaku di balik bilik gubuk tua nya. Tak banyak yang bisa Pak Tani lakukan, hanya sekedar mendengar cerita lucu dari para burung pipit yang berkicau di depan nya. Pak Tani tertawa, tapi tidak lepas. Tersenyum, tapi tidak bebas. Bahagia, tapi tidak terasa.
Pak Tani kebingungan, lalu tertidur, bermimpi berlibur, tak terbangun meski suara dengkur nya menggelegar mengisi seluruh sudut gubuk bambu nya.
Pak Tani, Tidur.
Yogyakarta, 27 Juni 2022
~ Koko
Friday, 13 May 2022
Memarahi Si Penggigau
Thursday, 12 May 2022
Bukan Lagi
Friday, 16 July 2021
Porak Poranda
Porak poranda sudah, tak ada yang tersisa. Menangis lah, niscaya tak ada seorang pun peduli, lagi. Bahkan tulisan konyol mu ini tak berati apa-apa. Tak ada yg membaca, tak ada yang seksama. Sirna, bersama usaha mu menarik simpatisan belaka. Tak ada seorang pun lagi di dunia ini yang ingin mengasihani manusia seperti mu. Seakan-akan menjadi orang yang tidak ingin perhatian, padahal orang yang paling haus kasih sayang dan pengertian. Berlindung di balik kata-kata, aku Mati Sendiri.
Kini semua semakin menyiksa bukan? Kau yang terkesan sok kuat, berubah menjadi mahkluk sekarat. Kau tak ingin di dekati, tapi takut Mati Sendiri. Sudah cukup melarikan diri, menghibur hati dan menunda mati, kini saat nya berdiri, berlari dan realisasi kan mimpi. Sudah tak punya Mimpi? atau terlalu basi? Baik, mari buat lagi, cari lebih teliti, ulang sampai jadi, sampai saat waktu berhenti, lalu mati, pastikan kau tak lagi sendiri, tak lagi merasa sepi.
Yogyakarta, 16 Juli 2021
~ Koko
Wednesday, 14 July 2021
Mati, Sendiri?
Mari menulis, Lagi.
Siklus konyol yang sering terulang, terulang lagi malam ini. Segelas Kopi Dingin di malam yang gerah menjadi doping ringan penuh dengan gairah. Begitulah pikir Pemuda Taek ini. Padahal dia tau kalau satu minggu atau mungkin tak sampe 3 hari siklus ini kembali ke state yang seperti biasa nya. Tak ada bahasan, tak ada bahan obrolan, lalu perlahan lenyap bersama hening nya suara notifikasi.
Si Pemuda Taek ini pasti paham betul, bahwa obralan ini hanya kan berlangsung tak berapa lama saja, seperti bau kentut sapi yang tertelan bau lethong nya sendiri. Lantas, mengapa dia masih saja mengoceh lembut, seakan-akan apa yang imajinasi kan Si Pemuda Taek akan terwujud. Gila, benar-benar gila, obrolan Pemuda Taek ini semakin menggila. Tak terduga dan tak disangka-sangka bukan.
Ah sudah lah, tak ada bahan lagi untuk menulis, sepertinya akan berjalan lancar, pikir Si Pemuda Taek ini.
* * *
Kini kisah si Pemuda Taek memasuki fase Kedua komunikasi. Seperti yang pertama, berpindah mediasi. Si Pemuda Taek terus terus an secara konsisten melancarkan serangan demi serangan demi terwujud nya mimpi-mimpi basi yang seakan tak pernah berhenti. Sudah hampir seminggu Dia bercakap bersama rindu yang di tumpuk sepanjang waktu, kemudian di jamu syahdu pada hitungan ke satu.
Si Pemuda Taek semakin membara ketika mata liar nya menyaksikan undangan pesta Merah Delima. Tak secara langsung menohok pandangan mata, hanya intip-intip tipis di balik semak-semak jelaga. Kini Si Pemuda Taek tersenyum, tapi bukan kagum karena namaya tidak tercantum, bukan itu. Dia hanya tersenyum, menertawai hidup nya yang tak pernah mampu berjalan meski cuma sejengkal.
* * *
Tak ada harapan, tak ingin berharap, biarkan mengalir bak ikan mati. Setidak nya, dia akan Mati Sendiri, memisahkan diri, tak ada yang mencari, sampai langkah kaki ini berhenti, lalu benar-benar Mati, yang sebenar-benar nya Mati, Sendiri.