Meragu lagi, berhenti di persimpangan lagi, menakutkan kembali, seperti setengah mati, yang belum benar-benar mati, nyaris di ujung jari, menanti kaki-kaki beraksi dengan hasil yang masih belum pasti.
Api Pak Tani malah meredup dan mulai kuncup,
Sudah tak semembara ketika pertama kali meletup,
Sebab, sekumpulan Air biadap seketika muncul bersama sebuah era yang seharusnya sudah tertutup.
Menjebol pematang sawah Pak Tani yang telah menyerah tak sanggup.
Alih-alih menutup arus, Pak Tani justru bersembunyi kaku di balik bilik gubuk tua nya. Tak banyak yang bisa Pak Tani lakukan, hanya sekedar mendengar cerita lucu dari para burung pipit yang berkicau di depan nya. Pak Tani tertawa, tapi tidak lepas. Tersenyum, tapi tidak bebas. Bahagia, tapi tidak terasa.
Pak Tani kebingungan, lalu tertidur, bermimpi berlibur, tak terbangun meski suara dengkur nya menggelegar mengisi seluruh sudut gubuk bambu nya.
Pak Tani, Tidur.
Yogyakarta, 27 Juni 2022
~ Koko
0 comments:
Post a Comment