Sudah bercerita tentang cilok nya, bukankah yang harus ku lakukan adalah menemukan wanita itu. Dia bukan pacar ku, aku sangat yakin itu. Aku menemui nya di sebuah cafe, atau tempat makan. Cukup ambigu sih, yang kulihat banyak sekali kursi dan meja tertata, tetapi aku tak melihat adanya para koki sedang memasak. Lalu, sebenarnya, tempat apa ini?
Dia duduk sendirian di sepasang kursi dan meja, ku melihat nya dari belakang. Ku dekati dan kusapa dia dengan sedikit ragu. Dia menoleh dan tersenyum kepada ku. Duduklah aku di depan nya. Dia wanita yang sempurna, batin ku. Rambut panjang se-dada, senyum manis tanpa gigi ber-behel, sorot mata tajam tanpa kacamata, kulit putih bak girlband korea. Aku tak memperhatikan pakaian nya, karena mata ku hanya terpaku pada wajah nya. Kau tak bercerita banyak, hanya tersenyum dan menatapku dalam, seakan mengharapkan sesuatu dari ku.
Lalu, di tengah kesyahduan kami berdua, seseorang memanggilku. Aku langsung sadar kalo dia adalah teman ku. Tapi, please deh kenapa muka nya sangat mirip dengan Yoo Jae-suk. Mungkin karena aku kebanyakan nonton Running Man akhir-akhir ini, sehingga kebawa mimpi. Dia berkata padaku, "Oh, jadi ini pacar mu ya? Kalau begitu, besok datang ya!. harus datang pokonya".
Aku tak begitu paham maksud nya, datang kemana? Masak iya ke Running Man. Tapi, apa dia bilang? Pacar? Lalu, aku melirik wanita itu. Dia tertunduk, tersipu malu, ada sedikit raut ekspresi sedih dimatanya. Maafkan teman ku ini ya, dia kalau ngomong suka sembarangan. Aku bahkan tak tau siapa nama mu. Atau mungkin aku di dunia sana sudah tau namamu, sedangkan aku di dunia sini belum tahu apa-apa tentang mu.
Tak lama berselang, kau pergi dari tempat duduk mu, tanpa berpamitan. Aku hanya berdiri menunggu. Lalu aku tak ingat lagi kejadian setelah itu. Tapi, potongan memori tentang mimpi ku belum terhenti. Tak lama kulihat dirimu lagi, duduk di tempat tadi. Dengan pakian baru ( yaa,, kali ini aku memperhatikan pakaianmu). Dress panjang warna putih bermotif bunga. Kau menunduk di atas meja seakan menutupi ingin menutupi wajahmu. Ku dekati dirimu, dan terperanjatlah aku. Kali ini kau bermake-up, tak menor tapi rapi. Eye shadow merah merona di sekeliling matamu. Rambut panjang mu terikat ke belakang. Sangat cantik! Namun, satu hal yang tetap terukir di wajahmu. Kesedihan. Ku duduk di depan nya dan menatap nya tajam. Dia balas tatapan ku seakan tak mau kalah tajam. Dia lalu tertunduk, lagi. Kemudian, aku mendengar tangisan. Entah setan apa yang merasuki ku, dengan sigapnya ku peluk dia, dan ku usap rambut lembut nya. Lalu ku berjanji pada nya,
"Aku akan mengatakan semuanya malam ini, maukah kau menunggu ku?"
Dia bangkit dari pelukan ku, lalu mengangguk kecil beserta senyum tipis nya. Berusaha menghapus air mata dan ukiran sedih di seluruh wajah nya. Ya, malam ini aku ku coba semua nya. Berharap memang kamu lah jawaban nya.
Wahai wanita dalam mimpi ku, maaf, aku gagal menepati janji ku. Seandainya bukan suara berisik di kamar ku, dan bunyi alarm di pagi hari ku, aku pasti akan menemui mu malam nanti. Pasti. Bukan mamang cilok dengan tahu putihnya. Padahal aku cuma butuh 5 menit saja. Iya, 5 menit saja. Mungkin kau satu-satu nya orang yang bisa mengusir kesepian ku.
Yogyakarta, 12 Mei 2020
Yogyakarta, 12 Mei 2020
~ Koko
0 comments:
Post a Comment