Monday, 11 May 2020

Siapa Wanita Dalam Mimpiku?

Bangun dengan posisi tak mengenakan pagi ini, dimana sebentar lagi akan ku ungkap kan semua pada nya, Wanita dalam mimpi ku. Terbangun 5 menit kemudian tidur lagi, tak mampu membuat mu kembali lagi. Yang ada malah aku yang terjebak oleh segerombolan anak kecil yang entah siapa mereka. Berdondong-bondong jajan cilok di pinggir jalan, dan yang bikin kesal, cilok nya habis, tinggal tahu putih dan kuah nya. Lalu, sebenarnya kau ini jualan apa mang? Tahu putih dan kuah? itu cilok aliran mana mang? Karena ku kesal, ku hangat kan kuah dan tahu putih itu dengan air sungai yang mengalir di samping mamang cillok itu. Ya dengan air, dan mampu hingga mendidih. Gila, aku baru sadar ini aneh ketika sudah bangun. Lalu, kucicipi tuh tahu putih, dengan garpu di tangan ku. Mungkin karena aku terlalu lama memanasi nya, sehingga ketika ku tusuk dengan garpu ku, hancur pula tahu itu. Rasa nya aneh, sepet-sepet hambar. Rasa yang belum pernah ku cicipi di dunia nyata. Atau memang di dunia mimpi memiliki lebih banyak varian rasa? Entahlah, yang pasti aku tak menyukai nya. Namun, terpaksa memakannya, karena sudah di beli kan?

Sudah bercerita tentang cilok nya, bukankah yang harus ku lakukan adalah menemukan wanita itu. Dia bukan pacar ku, aku sangat yakin itu. Aku menemui nya di sebuah cafe, atau tempat makan. Cukup ambigu sih, yang kulihat banyak sekali kursi dan meja tertata, tetapi aku tak melihat adanya para koki sedang memasak. Lalu, sebenarnya, tempat apa ini? 

Dia duduk sendirian di sepasang kursi dan meja, ku melihat nya dari belakang. Ku dekati dan kusapa dia dengan sedikit ragu. Dia menoleh dan tersenyum kepada ku. Duduklah aku di depan nya. Dia wanita yang sempurna, batin ku. Rambut panjang se-dada, senyum manis tanpa gigi ber-behel, sorot mata tajam tanpa kacamata, kulit putih bak girlband korea. Aku tak memperhatikan pakaian nya, karena mata ku hanya terpaku pada wajah nya. Kau tak bercerita banyak, hanya tersenyum dan menatapku dalam, seakan mengharapkan sesuatu dari ku. 

Lalu, di tengah kesyahduan kami berdua, seseorang memanggilku. Aku langsung sadar kalo dia adalah teman ku. Tapi, please deh kenapa muka nya sangat mirip dengan Yoo Jae-suk. Mungkin karena aku kebanyakan nonton Running Man akhir-akhir ini, sehingga kebawa mimpi. Dia berkata padaku, "Oh, jadi ini pacar mu ya? Kalau begitu, besok datang ya!. harus datang pokonya".
Aku tak begitu paham maksud nya, datang kemana? Masak iya ke Running Man. Tapi, apa dia bilang? Pacar? Lalu, aku melirik wanita itu. Dia tertunduk, tersipu malu, ada sedikit raut ekspresi sedih dimatanya. Maafkan teman ku ini ya, dia kalau ngomong suka sembarangan. Aku bahkan tak tau siapa nama mu. Atau mungkin aku di dunia sana sudah tau namamu, sedangkan aku di dunia sini belum tahu apa-apa tentang mu.

Tak lama berselang, kau pergi dari tempat duduk mu, tanpa berpamitan. Aku hanya berdiri menunggu. Lalu aku tak ingat lagi kejadian setelah itu. Tapi, potongan memori tentang mimpi ku belum terhenti. Tak lama kulihat dirimu lagi, duduk di tempat tadi. Dengan pakian baru ( yaa,, kali ini aku memperhatikan pakaianmu). Dress panjang warna putih bermotif bunga. Kau menunduk di atas meja seakan menutupi ingin menutupi wajahmu. Ku dekati dirimu, dan terperanjatlah aku. Kali ini kau bermake-up, tak menor tapi rapi. Eye shadow merah merona di sekeliling matamu. Rambut panjang mu terikat ke belakang. Sangat cantik! Namun, satu hal yang tetap terukir di wajahmu. Kesedihan. Ku duduk di depan nya dan menatap nya tajam. Dia balas tatapan ku seakan tak mau kalah tajam. Dia lalu tertunduk, lagi. Kemudian, aku mendengar tangisan. Entah setan apa yang merasuki ku, dengan sigapnya ku peluk dia, dan ku usap rambut lembut nya. Lalu ku berjanji pada nya, 

"Aku akan mengatakan semuanya malam ini, maukah kau menunggu ku?" 

Dia bangkit dari pelukan ku, lalu mengangguk kecil beserta senyum tipis nya. Berusaha menghapus air mata dan ukiran sedih di seluruh wajah nya. Ya, malam ini aku ku coba semua nya. Berharap memang kamu lah jawaban nya. 

Wahai wanita dalam mimpi ku, maaf, aku gagal menepati janji ku. Seandainya bukan suara berisik di kamar ku, dan bunyi alarm di pagi hari ku, aku pasti akan menemui mu malam nanti. Pasti. Bukan mamang cilok dengan tahu putihnya. Padahal aku cuma butuh 5 menit saja. Iya, 5 menit saja. Mungkin kau satu-satu nya orang yang bisa mengusir kesepian ku.

Yogyakarta, 12 Mei 2020
~ Koko
Share:

Saturday, 15 February 2020

Malas Menulis

Kali ini bukan puisi atau sajak. Hanya sebuah tulisan spontan yang secara ajaib ingin ditulis saja. Mungkin ikut-ikutan seperti biasa nya. Karena sedang asik menikmati berbagai buku bekas yang baru-baru ini ku borong, jadi ada hasrat ingin menulis lagi. Mungkin seminggu lagi sudah bosan seperti yang sudah-sudah. Konsistensi memang lah kawan ku sejak entah kapan.

Kata para motivator ternama, kita membutuhkan sebuah escaping tersendiri untuk meluapkan kegelisahan. Mungkin menulis dan buku adalah cara ku. Tapi, aku malas sekali menulis, meskipun terlampau banyak sekali hal di otak ku yang ingin ku tulis kan. Dulu, buku catatan ku penuh dengan tulisan-tulisan tak jelas. Dan dengan lugu nya ku beri label Deathnote pada buku tersebut. Aneh memang. Teramat aneh. Sebuah catatan ke-alay-an ku semasa kuliah dulu, dan, bersama Dia.

Hari ini, lagi-lagi buku bekas murah ku beli. Sabtu bersama Bapak -nya Aditya Mulya dan Notasi milik Morra Quatro. Aku tak begitu tahu tentang mereka. Terlebih lagi tentang Morra Quatro. Sebenernya aku hanya tertarik dengan Sabtu besama Bapak, walaupun sebenarnya sudah ku tonton film nya. Film nya sangatlah menarik, itulah yang membuat ku menginginkan buku itu. Dan, konyol nya, Aditya Mulya juga lah yang menulis buku Jomblo yang tentu sudah ku lihat film nya berkali-kali. Film yang sangat luar biasa menurutku. Dasar payah, kemana saja kau selama ini, sampai tidak tahu menahu mengenai ini.

Sudah ah, aku sedang malas menulis. Tercipta 3 pragraf hari ini, dan menuju paragraf ke 4. Lumayan juga untuk seseorang yang sedang malas menulis. Jika suatu saat nanti takdir membawa mu membaca tulisan ku ini, entah dengan cara apapun Tuhan melakukannya, aku ingin mengucapkan 1 kata. Terima Kasih. Karena tulisan sampah ku bisa kamu baca dengan penarasan, atau mungkin tidak. Eh, tapi btw, Terima kasih kan 2 kata yak. ewm,, sudah lah, bye.

~ Koko
Share: