Friday, 16 November 2012

Entahlah......

Entahlah......
Aku dan semua pedang pembunuhku.,
Mengobrak-abrik sususan yang mulai meninggi,.
Aku bodoh,.
Aku hanya termakan oleh apa yang sudah aku muntahkan,.

Aku menyakitnya,.
Melolong kesakitan diam saja,.
.
Aku dan semua pesakitanku,.
Mencari kata-kata penyembuh,.
Tanpa hanya diam saja,.

Yogyakarta, 16 November 2012 
~ Koko
Share:

Saturday, 8 September 2012

Sang Penulis

Sang Penulis

Aku merunduk ditepian selimut lembut
Menanti sang wantu segera menjemput
Mata setengah mengantuk dipenuhi oleh kabut
Sambil Menulis kembali sisa-sisa pikiran yang pernah tersebut

Belasan rasa kebosanan melanda mata kananku
Sementara rasa nafsu duniawi menghuni mata kiriku
Aku menghardik kedua rasa itu bersama rindu ku padamu
Dan sepertinya sebuah katana ditempalkan dileherku, oleh sang waktu

Perut ku mulai mulas sekali
Melihat dentangan jarum tak berduri
Terus berjalan memutari kesepian sendiri
Lalu, aku melangkah, berlari mengejar si pemimpi

Yogyakarta, 8 September 2012
~ Koko
Share:

Monday, 16 July 2012

Aku adalah anak gawang.

Aku adalah anak gawang

Yang tak terlihat dari sudut camera manapun. Yang tak diperhatikan oleh satupun penonton. Hanya berlari kesana kemari mengambil bola yang keluar lapangan dan langsung diberikan kepada sang pemain. Tidak ada trima kasih yang kudengar. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat euphoria pertandingan saja sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak gawang yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak loper Koran.
Yang terhalang debu dan asap knalpot. Yang tak pernah terlihat oleh pengendara jalan raya karena sudah pasti mereka lebih peduli dengan lampu hijau. Hanya berjalan kesana kemari membagikan wawasan ke seluruh pelosok negeri. Tanda trima kasih hanya berupa beberapa lembar uang seribuan. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat orang-orang membaca Koran ku saja itu sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak loper Koran yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak penyemir sepatu.
Yang tertutup oleh kaki-kaki client ku. Yang tak pernah terlihat sejajar, selalu saja dibawah kaki. Hanya mengelus sepatu bapak-bapak distasiun hingga mengkilat seperti baru. Dan yang pasti bapak tersebut tak mengenalku, hanya melihatku sebagai anak penyemir sepatu, tidak lebih. Namun, tak masalah, karena aku bisa membuat bapak itu sedikit berhemat untuk tidak segera membeli sepatu baru. Bagiku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak penyemir sepatu yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak ojeg payung.
Yang tertindih derasnya air hujan. Yang tetap setia menunggu “penumpang” datang meski dibawah guyuran hujan sekalipun. Hanya bisa memegang payung yang tak seberapa besarnya. Tak jarang pula aku basah kuyup tak terlindungi oleh payungku sendiri. Tetapi, motoku adalah, kenyamanan pelanggan adalah nomor satu. Walaupun aku tak dipedulikan, walupun aku hanya diperlukan saat musim hujan, bagi ku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak ojeg payung yang tak diperhatikan.

Aku adalah lilin kecil.
Yang terasingkan oleh kegelapan. Yang tetap menyala hingga aku mati merata. Hanya memberikan penerangan yang tak seberapa dibandingkan dengan lampu neon yang mahal harganya. Tak ada yang mempedulikan aku saat aku mulai meleleh, yang penting ruangan yang aku terangi tetap terjaga dari kegelapan. Namun, tak masalah, walaupun melelehnya tubuhku ini, aku masih bisa memberikan apa yang aku punya untuk ruangan gelap ini. Bagiku itu saja sudah sangat cukup, lebih dari cukup, meskipun aku hanyalah lilin kecil yang tak pernah dipedulikan.

Aku adalah anak gawang
Aku adalah anak loper Koran
Aku adalah anak penyemir sepatu
Aku adalah anak ojeg payun
Aku adalah lilin kecil

Aku bukan lah orang yang tak begitu penting untuk dipedulikan. Karena apapun yang aku lakukan, semua hanya sama saja. Aku berjibaku mengambil Bola liar yang keluar lapangan, Aku berpanas-panas ria di perempatan bersama Koran-koranku, Aku menahan rasa malu berada dibawah kaki orang yang harus kusemir sepatunya, Aku menahan rasa dingin yang menusuk tulang dibawah guyuran hujan lebat, Aku meleleh tak terhentikan hingga akhir hayat.
Apapun yang aku lakukan, tetap tak ada yang akan berpaling kearahku, aku tetap sendiri, menyendiri, tak karuan. Tapi ya sudahlah, mungkin aku memang hanya dibutuhkan disaat-saat tertentu, dan dicampakkan saat tak dibutuhkan atau saat tak ada masalah apapun. Hmmm,,,, ya sudahlah, mungkin memang seperti itu posisiku, memang hanya seperti itu…
Dan semakin hari, aku semakin menyadari bahwa posisi ku sebenarnya hanya seperti itu, meskipun aku berharap tidak. Tak masalah sih, akan tetap kujalani, karena jika bukan aku yang jadi anak gawang, atau loper Koran, atau penyemir sepatu, atau ojeg payung, atau pun lilin kecil, siapa lagi.? Harus ada yang mengisi posisi itu, jika tidak, maka para pemain akan kebingungan mencari bola, pengendara kendaraan harus repot2 ke toko tempat menjual Koran, bapak-bapak di stasiun harus mengelap sendiri sepatu lusuhnya, para penumpang harus merelakan bajunya basah kuyup terkena hujan, dan orang-orang harus ketakutan didalam kegelapan ruangan yang tertutup rapat.
Hmmm,,, okeh,,, aku akan tetap menjadi “profesional”, aku akan tetap melakukan tugasku sebagaimana mestinya, meskipun terlihat sia-sia dan tak pernah dipedulikan atau pun diinjak-injak sekalipun.  Aku tak akan bersedih, karena aku memang tak boleh bersedih. :):):):)

16 Juli 2012 @My Room
Share:

Thursday, 12 July 2012

What Ever

What Ever

Meruncingkan nada alunan sepi yang semakin terdengar jelas. Rasa terengah-engah muncul saat Aku berusaha mengejar harapan. Akan tetapi Dia terus saja berlari, menghindar, menyangkal, menolak dan masih dengan rasa takutnya. Aku hanya menghela nafas panjang yang tak tentu awal dan akhirnya. Apakah sekarang aku masih belum pantas untuk bersedih.? Bukankah Aku ini hanya serdadu kumbang yang disiapkan untuk menghadapi perang. Membantu meringankan beban, mencegah keluarnya keringat air mata, menemani saat rasa galau muncul setelah temaram dan awal fajar. Mengingat kembali kedudukan yang sudah aku tetapkan sepihak. Hanya mengedepankan totalitas ku menjadi sebuah lilin yang teramat terang. Kemudian aku akan mati perlahan dengan senyum yang takkan pernah hilang meski terkubur oleh lilin yang meleleh dari tubuhku sendiri.

Aku menghirup udara kepedihan yang bercampur rasa sesak yang tiada tara. Aku menanti kesunyian sendiri tanpa ada kepastian akan impianku. Terus berusaha agar tetap berada disampingnya hingga selama mungkin. Terus hidup dibawah “ketidak-jelasan” status yang mengakar erat dibalik tanah. Rasa sedih yang harusnya tak muncul dipelipis mata ku mulai mengusik. Harusnya aku lebih sadar posisiku selama ini. Aku bukan lah seseorang yang teramat special, atau seseorang yang pantas dielu-elukan, pantas untuk menjadi “pakaian” mu. Aku hanyalah sesosok makhluk tak terlalu berarti yang bahkan tak tahu sebenarnya aku ini siapa.? Pernah ku berfikir bahwa yang aku lakukan ini sangat lah sia-sia melihat reaksi penolakan secara halusnya. Pernah aku berfikir bahwa seharusnya aku berpaling kearah lain. Namun, seandainya aku memang harus memalingkan muka, pertanyaannya hanya satu, kemana akan kupalingkan muka ku selain kearahmu,.? Aku seakan tak punya arah lain, aku tak punya tujuan lain. Hanya terus-terusan kembali kearah yang sama.

Gejolak hati membuyarkan rasa sedih yang berkepanjangan. Dan sekali lagi, aku bukanlah orang yang pantas untuk bersedih. Tidak ada kata sedih dalam kamus besar ku, seharusnya begitu. Mungkin memang belum saat mengejar tentang semua ini. Mungkin memang belum saatnya aku mengungkapkan semua ini. Mungkin memang aku belum punya kesempatan yang sama. Namun, yang aku takutkan adalah keterlambatan dari aksi ku. Aku terlambat menyambut harapan yang kini mulai memudar. Aku,,, sangat takut kehilangan…..


Yogyakarta, 12 Juli 2012 
Share:

Tuesday, 26 June 2012

Perang Bintang Datang Menghadang

Perang Bintang Datang Menghadang

Melegakan sejenak harapan yang nyaris hilang,
Mencoba menyusun kembali tumpukan batu berbintang,
Aku sekali lagi mulai menyiapkan senjata perang,
Ketika kata-kata yang berlagak membuat meradang,
Sedangkan sang malam terus bersamanya dengan tenang,
Tak lama ku berjalan diatas langit yang teramat terang,
Akhirnya aku merasakan lagi rasa yang sempat terbuang,
Catatan kelam dulu membesarkan kemungkinan untuk terasing,
Dan meskipun hanya segelintir serpihan batu karang,
Namun, Selama masih terlihat dari ujung gunung terbentang,
Dan bahkan sampai masa depan tak mau diperpanjang,
Aku akan tetap berlari mengejarnya hingga ajal menghadang,
Share:

Monday, 18 June 2012

Perjalanan yang benar-benar sangat Panjang

Perjalanan yang benar-benar sangat Panjang

Enggan mata tuk terpejam.
Menghindari habisnya malam.
Tertutup sudah, terasa kelam.
Dan nirwana pun hanya terdiam.

Apakah akan berakhir seperti ini?
Apakah lagi-lagi aku menyepi?
Apakah akan sama dengan kini?
Apakah aku tak mampu menjemput mimpi?

Sekujur tubuhku benar-benar lemas.
Melihat mereka dengan kepala keras.
Tersedak oleh ego yang tak berbalas.
Menahan diri agar tak keluar batas.

Aku terpanah luka dari masa lalu
Tertatih dengan separuh hati baru.
Ingin sekali membakar pilu itu.
Kuremukan hingga tak menentu.

Namun, aku tak berdaya seperti bayi.
Menangisi ketakutan tak berarti.
Berlindung dibawah ketiak sang pemimpi.
Dan parahnya aku berlagak pemberani.

Menghela nafas yang teramat panjang.
Memasang kuda-kuda siap terbang.
Dan Aku ingin sekali menang.
Namun, keadaan tak ijinkan aku perang.

Sepertinya juga semua tak restu.
Semua tak berjalan sesuai buku.
Aku tak tahu apa maksud-MU.
Memisahkan harapan yang belum padu.

Aku tak akan menahan.
Membiarkan tuntutan sang komandan.
Yang harus memisahkan kenangan dan harapan.
Aku hanya bisa terseyum merelakan.

Sekarang hanya meratap pilu.
Melukis tanpa tinta warna ungu.
Ucapan perpisahan mengharu sendu.
Dan akhirnya sang burungpun tetap melaju.

Aku menyendiri lagi nih?
Setelah sekian lama, akhirnya malah perih.
Apa ini artinya aku diminta untuk beralih?
Jujur, aku tak akan beralih dan tetap berdiri gigih.

Sampai saatnya tiba,
Aku akan terus merapatkan mata,
Menutup hati untuk segala rasa,
Hingga aku benar-benar sudah tak bernyawa,

Aku hanya punya satu pintu.
Aku hanya punya kunci satu.
Aku hanya punya satu rindu.
Dan kuharap itu kamu.


Yogyakarta 18 Juni 2012 @Perpustakaan STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
Share:

Saturday, 16 June 2012

16 Juni 2012 @Rmh Kotak 13:51 WIB

16 Juni 2012 @Rmh Kotak 13:51 WIB

Aku lelah terus menanti sesuatu yang ingin aku tahu. Aku bingung mencari sesuatu yang tak kumengerti. Aku selalu terjebak antara pertanyaan yang sama tiap harinya. Selalu saja begitu,. Aku hanya mencoba menelusuri tetang dirimu. Aku hanya mencoba memahamimu. Aku hanya mencoba merasakan gimana rasanya menjadi dirimu. Aku hanya ingin punya seseorang yang senasib sepenanggungan. Aku hanya berusaha mencairkan es yang membekukan Hatimu. Itu saja yang aku inginkan. Tidak ada yang lain. Menjadi orang yg berharga bagi orang lain itu sulit sekali tampaknya. ......


Share:

Thursday, 14 June 2012

Renungan Harapan

Kembali meringis pilu,
Aku hanya bisa terdiam terpaku,
Tak tau apa yang sedang berlaku?
Entahlah, semuanya berjalan tak menentu,
Menunggu malam baru,
Bersama sepi sendu merindu,
Tersenyum dengan wajah lucu ku,
Kemudian mata terpejam kaku.
Merasakan matinya rasa saja ku tak mampu,
Lalu apakah semua akan berakhir begitu?
Menyerah pada tangan nasib tabu,
Ahh sudahlah, aku hanya perlu terus melaju,

Jika saat itu tiba,
Dimana aku berubah menjadi sesuatu yang berbeda,
Apakah masa depan impian akan sesuai rencana?
Kini aku menunggu nyawa terancam bahaya,
Dan apa yang terjadi jika berada diujung derita?
Mengais sisa-sisa Cinta yang terbawa?
Atau menyerah kalah tak berdaya?
Namun, setiap seyuman berwarna,
Mampu mengalihakan semua rasa putus asa,
Dan selalu begitu saja,
Tak tau mengapa.

Kini tiba saatnya, untuk merenungkan.....
Hmmmm,,,

Yogyakarta, 14 Juni 2012 
Share:

Thursday, 31 May 2012

Aku dan 3 Kata yang Tak Terucap

Aku dan 3 Kata yang Tak Terucap
Aku terantuk batu,
Terhuyun menatap kalbu,
Bersama satu padu,
Merusak tatanan rencanaku,

Aku bermuram durja,
Sekujur tubuh merana,
Melihat kenyataan belaka,
Yang semakin buta,

Aku mengatakan hati,
Tapi hati berlari,
Dia tersandung mimpi,
Tapi tak berani,

Aku semakin loyo,
Termakan oleh ego,
Yang mengais bego,
Dan diseruduk kebo,

Aku tertarik malu,
Ketika kegagalan menunggu,
Sedangkan aku bisu,
Apakah akan berlalu,

begitu saja...
Yogyakarta, 31 Mei 2012, 17:44 WIB
Share:

Tuesday, 29 May 2012

SUMPAHKU!

SUMPAHKU!

Seiring berjalannya kaki
Melangkah demi satu janji
Yang mungkin akan pergi
Hilang ditinggal mati
Tertepis indahnya dunia
Dan menghapus sumpah duka
Yang dilanggar oleh dosa

Sumpah ini mulai mengikis
Di saat hidupku menangis
Meratapi sumpahku yang habis
Di sisa waktu yang kian menipis

Yogyakarta, 29 Mei 2012
Share:

Sunday, 27 May 2012

-KEEP MOVING FOWARD-

-KEEP MOVING FOWARD-

sekali lagi aku meradang pilu
mengais asa yang tak menentu
apa aku hanya bisa membisu?
atau melukis sesuatu tak tertuju
akankah nasib selama itu tetap begitu?
saat sang bulan melaju
mimpi-mimpi indah seakan diujung bahu
namun saat subuh berlalu
tak ada lagi mimpi yang terpaku
semua menghilang dan menyisakanku

apa aku masih punya harapan baru?
apa aku mengulang memori masa lalu?
apa aku mencintai rasa tabu itu?
apa aku meredam diri dalam saku?
apa aku ? tak bisa menyatu?

obsesi tinggi merasuki hatiku
menerabas halangan masa lalu
yang sebenarnya tak terlalu penting bagiku
tapi selalu saja oknum-oknum tertentu
memaksaku menolak masa yang sudah jelas telah berlalu

ayolah, bukan saatnya melihat harumu dulu
bukan saatnya memikirkan hal palsu
bukan saatnya menutup raut malu
bukan saatnya menggambar tembok bertalu

-karena-

aku bukan masa lalumu
aku masa depan yang tak tercipta tanpa ragu
aku adalah sesuatu yang baru
aku,,, adalah aku
seseorang yang tak sama dengan dulu


Yogyakarta 27 Mei 2012 21:19 WIB
Share:

Saturday, 26 May 2012

Aku Pikir "DIA"

Aku Pikir "DIA"

Aku terpaku tak berdaya.
Ternyata terlalu berbahaya.
Menantang badai yang ku tebar merata.
Dan hanya tertegun meraih luka.

Kini meratapi harapan yang sirna.
Padahal aku sempat berfikir "Dia".
Padahal sempat berjalan membuka kotak Pandora.
Tapi apa daya, kail tak terpakai ku melukai Dia.

Sesak mendera semua nafas yg sia-sia belaka.
Apa aku tak boleh bersama Dia.
Apa Dia tak mau bersama aku.
Apa Aku dan Dia hanya sepotong foto tak mau tersambung.

Entahlah... apa yang terjadi padaku nanti.
Mungkin Aku kehilangan semua harapanku
Padahal aku ingin sekali Dia....
Padahal aku ingin sekali Dia....
Padahal aku ingin sekali Dia....
Apa ada pintu lain untukku?
entahlah, yang pasti, Puisiku mulai kehilangan rimanya...


@Q-TA Net. Yogyakarta. 26 Mei 2012. 18:48 WIB
Share:

Monday, 21 May 2012

Tak Tau?

Tak Tau?

Melemaskan jemari sejenak.
Mencoba menghela nafas tak beranjak.
Menunggu hati lah yang bertindak.
...
Apakah ada yang menghilangkan rautku.
Apakah mereka menghakimi nafsu satuku.
Apakah janji tak terucap mengalir penuh debu.
...
Seperti gemericik alunan awan nan lembut.
Sepertinya sang pencabut maut mulai menyambut.
Sepertinya juga aku tertatih tak bebuntut.
...
Aku sedih hari ini.
Aku murung menanti.
Aku tak sanggup berekspresi.
...
Kamu telah masuk ketulang-tulang.
Kamu telah menerobos barbatang-batang.
Kamu telah membuka hati terkenang-kenang.
...
Aku adalah kamu.
Kamu adalah aku.
Aku dan Kamu.
Kamu dan Aku.
Tak Tau?
...
Yogyakarta. 21 Mei 2012.

Share: