Yang tak terlihat dari sudut camera manapun. Yang tak diperhatikan oleh satupun penonton. Hanya berlari kesana kemari mengambil bola yang keluar lapangan dan langsung diberikan kepada sang pemain. Tidak ada trima kasih yang kudengar. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat euphoria pertandingan saja sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak gawang yang tak diperhatikan.
Aku adalah anak loper Koran.
Yang terhalang debu dan asap knalpot. Yang tak pernah terlihat oleh pengendara jalan raya karena sudah pasti mereka lebih peduli dengan lampu hijau. Hanya berjalan kesana kemari membagikan wawasan ke seluruh pelosok negeri. Tanda trima kasih hanya berupa beberapa lembar uang seribuan. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat orang-orang membaca Koran ku saja itu sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak loper Koran yang tak diperhatikan.
Aku adalah anak penyemir sepatu.
Yang tertutup oleh kaki-kaki client ku. Yang tak pernah terlihat sejajar, selalu saja dibawah kaki. Hanya mengelus sepatu bapak-bapak distasiun hingga mengkilat seperti baru. Dan yang pasti bapak tersebut tak mengenalku, hanya melihatku sebagai anak penyemir sepatu, tidak lebih. Namun, tak masalah, karena aku bisa membuat bapak itu sedikit berhemat untuk tidak segera membeli sepatu baru. Bagiku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak penyemir sepatu yang tak diperhatikan.
Aku adalah anak ojeg payung.
Yang tertindih derasnya air hujan. Yang tetap setia menunggu “penumpang” datang meski dibawah guyuran hujan sekalipun. Hanya bisa memegang payung yang tak seberapa besarnya. Tak jarang pula aku basah kuyup tak terlindungi oleh payungku sendiri. Tetapi, motoku adalah, kenyamanan pelanggan adalah nomor satu. Walaupun aku tak dipedulikan, walupun aku hanya diperlukan saat musim hujan, bagi ku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak ojeg payung yang tak diperhatikan.
Aku adalah lilin kecil.
Yang terasingkan oleh kegelapan. Yang tetap menyala hingga aku mati merata. Hanya memberikan penerangan yang tak seberapa dibandingkan dengan lampu neon yang mahal harganya. Tak ada yang mempedulikan aku saat aku mulai meleleh, yang penting ruangan yang aku terangi tetap terjaga dari kegelapan. Namun, tak masalah, walaupun melelehnya tubuhku ini, aku masih bisa memberikan apa yang aku punya untuk ruangan gelap ini. Bagiku itu saja sudah sangat cukup, lebih dari cukup, meskipun aku hanyalah lilin kecil yang tak pernah dipedulikan.
Aku adalah anak gawang
Aku adalah anak loper Koran
Aku adalah anak penyemir sepatu
Aku adalah anak ojeg payun
Aku adalah lilin kecil
Aku bukan lah orang yang tak begitu penting untuk dipedulikan. Karena apapun yang aku lakukan, semua hanya sama saja. Aku berjibaku mengambil Bola liar yang keluar lapangan, Aku berpanas-panas ria di perempatan bersama Koran-koranku, Aku menahan rasa malu berada dibawah kaki orang yang harus kusemir sepatunya, Aku menahan rasa dingin yang menusuk tulang dibawah guyuran hujan lebat, Aku meleleh tak terhentikan hingga akhir hayat.
Apapun yang aku lakukan, tetap tak ada yang akan berpaling kearahku, aku tetap sendiri, menyendiri, tak karuan. Tapi ya sudahlah, mungkin aku memang hanya dibutuhkan disaat-saat tertentu, dan dicampakkan saat tak dibutuhkan atau saat tak ada masalah apapun. Hmmm,,,, ya sudahlah, mungkin memang seperti itu posisiku, memang hanya seperti itu…
Dan semakin hari, aku semakin menyadari bahwa posisi ku sebenarnya hanya seperti itu, meskipun aku berharap tidak. Tak masalah sih, akan tetap kujalani, karena jika bukan aku yang jadi anak gawang, atau loper Koran, atau penyemir sepatu, atau ojeg payung, atau pun lilin kecil, siapa lagi.? Harus ada yang mengisi posisi itu, jika tidak, maka para pemain akan kebingungan mencari bola, pengendara kendaraan harus repot2 ke toko tempat menjual Koran, bapak-bapak di stasiun harus mengelap sendiri sepatu lusuhnya, para penumpang harus merelakan bajunya basah kuyup terkena hujan, dan orang-orang harus ketakutan didalam kegelapan ruangan yang tertutup rapat.
Hmmm,,, okeh,,, aku akan tetap menjadi “profesional”, aku akan tetap melakukan tugasku sebagaimana mestinya, meskipun terlihat sia-sia dan tak pernah dipedulikan atau pun diinjak-injak sekalipun. Aku tak akan bersedih, karena aku memang tak boleh bersedih. :):):):)
16 Juli 2012 @My Room