Friday, 16 July 2021

Porak Poranda

 Porak poranda sudah, tak ada yang tersisa. Menangis lah, niscaya tak ada seorang pun peduli, lagi. Bahkan tulisan konyol mu ini tak berati apa-apa. Tak ada yg membaca, tak ada yang seksama. Sirna, bersama usaha mu menarik simpatisan belaka. Tak ada seorang pun lagi di dunia ini yang ingin mengasihani manusia seperti mu. Seakan-akan menjadi orang  yang tidak ingin perhatian, padahal orang yang paling haus kasih sayang dan pengertian. Berlindung di balik kata-kata, aku Mati Sendiri.

Kini semua semakin menyiksa bukan? Kau yang terkesan sok kuat, berubah menjadi mahkluk sekarat. Kau tak ingin di dekati, tapi takut Mati Sendiri. Sudah cukup melarikan diri, menghibur hati dan menunda mati, kini saat nya berdiri, berlari dan realisasi kan mimpi. Sudah tak punya Mimpi? atau terlalu basi? Baik, mari buat lagi, cari lebih teliti, ulang sampai jadi, sampai saat waktu berhenti, lalu mati, pastikan kau tak lagi sendiri, tak lagi merasa sepi.


Yogyakarta, 16 Juli 2021

~ Koko

Share:

Wednesday, 14 July 2021

Mati, Sendiri?

Mari menulis, Lagi.

Siklus konyol yang sering terulang, terulang lagi malam ini. Segelas Kopi Dingin di malam yang gerah menjadi doping ringan penuh dengan gairah. Begitulah pikir Pemuda Taek ini. Padahal dia tau kalau satu minggu atau mungkin tak sampe 3 hari siklus ini kembali ke state yang seperti biasa nya. Tak ada bahasan, tak ada bahan obrolan, lalu perlahan lenyap bersama hening nya suara notifikasi.

Si Pemuda Taek ini pasti paham betul, bahwa obralan ini hanya kan berlangsung tak berapa lama saja, seperti bau kentut sapi yang tertelan bau lethong nya sendiri. Lantas, mengapa dia masih saja mengoceh lembut, seakan-akan apa yang imajinasi kan Si Pemuda Taek akan terwujud. Gila, benar-benar gila, obrolan Pemuda Taek ini semakin menggila. Tak terduga dan tak disangka-sangka bukan.

Ah sudah lah, tak ada bahan lagi untuk menulis, sepertinya akan berjalan lancar, pikir Si Pemuda Taek ini.

* * *

Kini kisah si Pemuda Taek memasuki fase Kedua komunikasi. Seperti yang pertama, berpindah mediasi. Si Pemuda Taek terus terus an secara konsisten melancarkan serangan demi serangan demi terwujud nya mimpi-mimpi basi yang seakan tak pernah berhenti. Sudah hampir seminggu Dia bercakap bersama rindu yang di tumpuk sepanjang waktu, kemudian di jamu syahdu pada hitungan ke satu.

Si Pemuda Taek semakin membara ketika mata liar nya menyaksikan undangan pesta Merah Delima. Tak secara langsung menohok pandangan mata, hanya intip-intip tipis di balik semak-semak jelaga. Kini Si Pemuda Taek tersenyum, tapi bukan kagum karena namaya tidak tercantum, bukan itu. Dia hanya tersenyum, menertawai hidup nya yang tak pernah mampu berjalan meski cuma sejengkal.

* * *

Tak ada harapan, tak ingin berharap, biarkan mengalir bak ikan mati. Setidak nya, dia akan Mati Sendiri, memisahkan diri, tak ada yang mencari, sampai langkah kaki ini berhenti, lalu benar-benar Mati, yang sebenar-benar nya Mati, Sendiri.


Share: