Monday, 16 July 2012

Aku adalah anak gawang.

Aku adalah anak gawang

Yang tak terlihat dari sudut camera manapun. Yang tak diperhatikan oleh satupun penonton. Hanya berlari kesana kemari mengambil bola yang keluar lapangan dan langsung diberikan kepada sang pemain. Tidak ada trima kasih yang kudengar. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat euphoria pertandingan saja sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak gawang yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak loper Koran.
Yang terhalang debu dan asap knalpot. Yang tak pernah terlihat oleh pengendara jalan raya karena sudah pasti mereka lebih peduli dengan lampu hijau. Hanya berjalan kesana kemari membagikan wawasan ke seluruh pelosok negeri. Tanda trima kasih hanya berupa beberapa lembar uang seribuan. Namun, tak masalah, karena hanya dengan melihat orang-orang membaca Koran ku saja itu sudah cukup bagiku. Sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak loper Koran yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak penyemir sepatu.
Yang tertutup oleh kaki-kaki client ku. Yang tak pernah terlihat sejajar, selalu saja dibawah kaki. Hanya mengelus sepatu bapak-bapak distasiun hingga mengkilat seperti baru. Dan yang pasti bapak tersebut tak mengenalku, hanya melihatku sebagai anak penyemir sepatu, tidak lebih. Namun, tak masalah, karena aku bisa membuat bapak itu sedikit berhemat untuk tidak segera membeli sepatu baru. Bagiku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak penyemir sepatu yang tak diperhatikan.

Aku adalah anak ojeg payung.
Yang tertindih derasnya air hujan. Yang tetap setia menunggu “penumpang” datang meski dibawah guyuran hujan sekalipun. Hanya bisa memegang payung yang tak seberapa besarnya. Tak jarang pula aku basah kuyup tak terlindungi oleh payungku sendiri. Tetapi, motoku adalah, kenyamanan pelanggan adalah nomor satu. Walaupun aku tak dipedulikan, walupun aku hanya diperlukan saat musim hujan, bagi ku itu sudah sangat cukup, meskipun aku hanya anak ojeg payung yang tak diperhatikan.

Aku adalah lilin kecil.
Yang terasingkan oleh kegelapan. Yang tetap menyala hingga aku mati merata. Hanya memberikan penerangan yang tak seberapa dibandingkan dengan lampu neon yang mahal harganya. Tak ada yang mempedulikan aku saat aku mulai meleleh, yang penting ruangan yang aku terangi tetap terjaga dari kegelapan. Namun, tak masalah, walaupun melelehnya tubuhku ini, aku masih bisa memberikan apa yang aku punya untuk ruangan gelap ini. Bagiku itu saja sudah sangat cukup, lebih dari cukup, meskipun aku hanyalah lilin kecil yang tak pernah dipedulikan.

Aku adalah anak gawang
Aku adalah anak loper Koran
Aku adalah anak penyemir sepatu
Aku adalah anak ojeg payun
Aku adalah lilin kecil

Aku bukan lah orang yang tak begitu penting untuk dipedulikan. Karena apapun yang aku lakukan, semua hanya sama saja. Aku berjibaku mengambil Bola liar yang keluar lapangan, Aku berpanas-panas ria di perempatan bersama Koran-koranku, Aku menahan rasa malu berada dibawah kaki orang yang harus kusemir sepatunya, Aku menahan rasa dingin yang menusuk tulang dibawah guyuran hujan lebat, Aku meleleh tak terhentikan hingga akhir hayat.
Apapun yang aku lakukan, tetap tak ada yang akan berpaling kearahku, aku tetap sendiri, menyendiri, tak karuan. Tapi ya sudahlah, mungkin aku memang hanya dibutuhkan disaat-saat tertentu, dan dicampakkan saat tak dibutuhkan atau saat tak ada masalah apapun. Hmmm,,,, ya sudahlah, mungkin memang seperti itu posisiku, memang hanya seperti itu…
Dan semakin hari, aku semakin menyadari bahwa posisi ku sebenarnya hanya seperti itu, meskipun aku berharap tidak. Tak masalah sih, akan tetap kujalani, karena jika bukan aku yang jadi anak gawang, atau loper Koran, atau penyemir sepatu, atau ojeg payung, atau pun lilin kecil, siapa lagi.? Harus ada yang mengisi posisi itu, jika tidak, maka para pemain akan kebingungan mencari bola, pengendara kendaraan harus repot2 ke toko tempat menjual Koran, bapak-bapak di stasiun harus mengelap sendiri sepatu lusuhnya, para penumpang harus merelakan bajunya basah kuyup terkena hujan, dan orang-orang harus ketakutan didalam kegelapan ruangan yang tertutup rapat.
Hmmm,,, okeh,,, aku akan tetap menjadi “profesional”, aku akan tetap melakukan tugasku sebagaimana mestinya, meskipun terlihat sia-sia dan tak pernah dipedulikan atau pun diinjak-injak sekalipun.  Aku tak akan bersedih, karena aku memang tak boleh bersedih. :):):):)

16 Juli 2012 @My Room
Share:

Thursday, 12 July 2012

What Ever

What Ever

Meruncingkan nada alunan sepi yang semakin terdengar jelas. Rasa terengah-engah muncul saat Aku berusaha mengejar harapan. Akan tetapi Dia terus saja berlari, menghindar, menyangkal, menolak dan masih dengan rasa takutnya. Aku hanya menghela nafas panjang yang tak tentu awal dan akhirnya. Apakah sekarang aku masih belum pantas untuk bersedih.? Bukankah Aku ini hanya serdadu kumbang yang disiapkan untuk menghadapi perang. Membantu meringankan beban, mencegah keluarnya keringat air mata, menemani saat rasa galau muncul setelah temaram dan awal fajar. Mengingat kembali kedudukan yang sudah aku tetapkan sepihak. Hanya mengedepankan totalitas ku menjadi sebuah lilin yang teramat terang. Kemudian aku akan mati perlahan dengan senyum yang takkan pernah hilang meski terkubur oleh lilin yang meleleh dari tubuhku sendiri.

Aku menghirup udara kepedihan yang bercampur rasa sesak yang tiada tara. Aku menanti kesunyian sendiri tanpa ada kepastian akan impianku. Terus berusaha agar tetap berada disampingnya hingga selama mungkin. Terus hidup dibawah “ketidak-jelasan” status yang mengakar erat dibalik tanah. Rasa sedih yang harusnya tak muncul dipelipis mata ku mulai mengusik. Harusnya aku lebih sadar posisiku selama ini. Aku bukan lah seseorang yang teramat special, atau seseorang yang pantas dielu-elukan, pantas untuk menjadi “pakaian” mu. Aku hanyalah sesosok makhluk tak terlalu berarti yang bahkan tak tahu sebenarnya aku ini siapa.? Pernah ku berfikir bahwa yang aku lakukan ini sangat lah sia-sia melihat reaksi penolakan secara halusnya. Pernah aku berfikir bahwa seharusnya aku berpaling kearah lain. Namun, seandainya aku memang harus memalingkan muka, pertanyaannya hanya satu, kemana akan kupalingkan muka ku selain kearahmu,.? Aku seakan tak punya arah lain, aku tak punya tujuan lain. Hanya terus-terusan kembali kearah yang sama.

Gejolak hati membuyarkan rasa sedih yang berkepanjangan. Dan sekali lagi, aku bukanlah orang yang pantas untuk bersedih. Tidak ada kata sedih dalam kamus besar ku, seharusnya begitu. Mungkin memang belum saat mengejar tentang semua ini. Mungkin memang belum saatnya aku mengungkapkan semua ini. Mungkin memang aku belum punya kesempatan yang sama. Namun, yang aku takutkan adalah keterlambatan dari aksi ku. Aku terlambat menyambut harapan yang kini mulai memudar. Aku,,, sangat takut kehilangan…..


Yogyakarta, 12 Juli 2012 
Share: