Hei, apakah kau percaya dengan takdir?
Kata orang, takdir adalah suatu tatanan peristiwa yang sudah di garis kan dari sang pencipta jagat raya dan bersifat mutlak. Lalu, jika memang seperti itu, apapun yang manusia lakukan tidak akan mengubah apapun dong. Misal nya, Jika Toni adalah jodoh terakhir Sari, maka mau seberapa keras Toni berontak, tetep akan menjadi pasangan hidup nya Sari. Benarkah seperti itu?
Lalu, apakah semua orang berhak bahagia? Jika memang seperti itu, apa sebaik nya semua orang diam saja, dan menunggu takdir Bahagia nya? Toh jika memang takdir sudah di tentukan sejak kita lahir, secara logika, apapun yang kita lakukan di dunia ini tidak akan merubah itu kan. Ya, apapun. Termasuk duduk diam tidak melakukan apa-apa.
Terkadang orang-orang juga sering "membuat" takdir mereka sendiri. Seperti kisah Gading dan Gissele. Gading pasti membuat Gissele menjadi 'takdir" dalam hidup nya. Dia pasti berfikir takdir hidup nya adalah Giselle. Namun, perceraian membuat nya seakan-akan dia "mengubah" takdir. Lalu, apakah takdir sebenarnya bisa di rubah sejak awal? Atau kah takdir "buatan" manusia ini adalah serangakaian "takdir" yang sudah tertulis di dalam "takdir" Tuhan yang sebenarnya, bahwa dalam "Takdir" sang pencipta, tertulis bahwa "Dia akan seakan-akan mengubah takdir nya". Padahal takdir yang sebenarnya tidak lah berubah sama sekali.
Hal yang membingungkan ini terjadi padaku. Aku sudah susah payah meninggalkan sesorang, menghapuskan memori ku tentang dia hanya untuk seseorang yang lain. Namun, seakan-akan "takdir" lah yang menuntun ku bertemu dengan nya kembali dengan cara yang teramat mudah. Sedang kan sesesorang yang ku kejar mati-matian karena ku anggap dia adalah takdir ku kelak, malah semakin menjauh dan tak tergapai. Apakah ini yang Kau maksud takdir, wahai Tuhan Yang Agung?
Bagaimana tidak membingungkan ku, untuk bertemu dengan orang yang ku anggap takdir ku saja, aku harus bersusah payah melakukaannya. Padahal aku memiliki semua yang kubutuhkan untuk sekedar bertemu dengan nya. Nama, alamat rumah, nomor telp, nomor rekening, berat badan, ukuran sepatu, nomor bpjs, jadwal kuliah bahkan sampai judul skripsi dan rencana tempat penelitian yang dia garap pun aku tahu. Tetapi, untuk bisa saling bertatap muka selama 3 detik saja rasa nya seperti sedang berhadapan dengan medusa. Jika saling menatap lama, kau akan menjadi batu, dan mati.
Sedang kan dengan seseorang yg sengaja ku tinggalkan, karena ku pikir dia tidak mirip seperti takdir ku, malah bisa kau pertemukan kembali dengan cara yang teramat mudah. Aku bahkan hampir tak punya apa-apa untuk bertemu dengan nya. Yang ku tahu tentang mu hanyalah Nama, tempat kerja dan Kost an mu. Bahkan nomor telp saja tak punya. Lalu, malam itu, dengan inisiatif yang niat nya pasang surut selama sebulan, aku menulis surat itu. Bahkan amplop nya saja ku beli 3 hari sebelum nya. Karena rasa malas lah yang membuat ku terkadang tidak jadi membuat dan mengantarkan surat itu. Malam itu aku berfikir bahwa aku harus mengirimkan surat itu malam itu juga. Tidak bisa di lain waktu. Harus malam itu.
Esok nya, aku tertawa terbahak-bahak, ketika Line ku berbunyi. Surat ku terbaca! Bahkan belum ada 1x24 jam. Dia menghubungi ku. Dia terkaget-kaget, karena malam itu adalah malam terakhir dia di kostan tersebut. Ya, malam itu lah dia berpamitan dengan ibu kost nya, karena mulai besok dia akan berpindah tempat tinggal. Tepat jam 10 malam, dia pamitan, dan tepat jam 9 malam, surat itu ku selipkan di antara pintu garasi. Mungkin jika aku menunggu sampai jam 10, aku akan bertemu dengan nya secara langsung. Bahkan tanpa surat ajaib itu.
Apakah ini yang dinamakan takdir, Tuhan? Jika saja malam itu aku masih merasa malas seperti hari-hari sebelum nya, mungkin aku bener-benar tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Lalu, apakah yang kulakukan ini adalah "mengubah takdir" seperti yang di lakukan Gading? Atau, memang seperti ini lah takdir ku sejak awal? Sungguh membingungkan, Tuhan. Sangat membingungkan.
Lalu, aku harus apa sekarang?
Aku lelah, Tuhan. Sangat lelah
0 comments:
Post a Comment