Thursday, 12 July 2012

What Ever

What Ever

Meruncingkan nada alunan sepi yang semakin terdengar jelas. Rasa terengah-engah muncul saat Aku berusaha mengejar harapan. Akan tetapi Dia terus saja berlari, menghindar, menyangkal, menolak dan masih dengan rasa takutnya. Aku hanya menghela nafas panjang yang tak tentu awal dan akhirnya. Apakah sekarang aku masih belum pantas untuk bersedih.? Bukankah Aku ini hanya serdadu kumbang yang disiapkan untuk menghadapi perang. Membantu meringankan beban, mencegah keluarnya keringat air mata, menemani saat rasa galau muncul setelah temaram dan awal fajar. Mengingat kembali kedudukan yang sudah aku tetapkan sepihak. Hanya mengedepankan totalitas ku menjadi sebuah lilin yang teramat terang. Kemudian aku akan mati perlahan dengan senyum yang takkan pernah hilang meski terkubur oleh lilin yang meleleh dari tubuhku sendiri.

Aku menghirup udara kepedihan yang bercampur rasa sesak yang tiada tara. Aku menanti kesunyian sendiri tanpa ada kepastian akan impianku. Terus berusaha agar tetap berada disampingnya hingga selama mungkin. Terus hidup dibawah “ketidak-jelasan” status yang mengakar erat dibalik tanah. Rasa sedih yang harusnya tak muncul dipelipis mata ku mulai mengusik. Harusnya aku lebih sadar posisiku selama ini. Aku bukan lah seseorang yang teramat special, atau seseorang yang pantas dielu-elukan, pantas untuk menjadi “pakaian” mu. Aku hanyalah sesosok makhluk tak terlalu berarti yang bahkan tak tahu sebenarnya aku ini siapa.? Pernah ku berfikir bahwa yang aku lakukan ini sangat lah sia-sia melihat reaksi penolakan secara halusnya. Pernah aku berfikir bahwa seharusnya aku berpaling kearah lain. Namun, seandainya aku memang harus memalingkan muka, pertanyaannya hanya satu, kemana akan kupalingkan muka ku selain kearahmu,.? Aku seakan tak punya arah lain, aku tak punya tujuan lain. Hanya terus-terusan kembali kearah yang sama.

Gejolak hati membuyarkan rasa sedih yang berkepanjangan. Dan sekali lagi, aku bukanlah orang yang pantas untuk bersedih. Tidak ada kata sedih dalam kamus besar ku, seharusnya begitu. Mungkin memang belum saat mengejar tentang semua ini. Mungkin memang belum saatnya aku mengungkapkan semua ini. Mungkin memang aku belum punya kesempatan yang sama. Namun, yang aku takutkan adalah keterlambatan dari aksi ku. Aku terlambat menyambut harapan yang kini mulai memudar. Aku,,, sangat takut kehilangan…..


Yogyakarta, 12 Juli 2012 
Share:

0 comments:

Post a Comment